“BON VOYAGE” Perjalanan yang Menyenangkan (Sampai Jadi Perwira). Part II

Part II - Perjalanan yang menyenangkan sampai jadi Perwira

Lanjutan BON VOYAGE - Part I


Bon Voyage" - Akpelni 49/N-Golf/Bendan/Smg.
Hi gaes.. jumpa lagi kita..
Sebelumnya terima kasih untuk kalian yang hari ini meluangkan kembali waktu untuk mendengarkan cerita saya.

Pada kesempatan ini saya akan melanjutkan cerita yang kemarin. Berbicara mengenai bagaimana hidup di jaman dahulu dan hidup di jaman sekarang, saya pribadi berpendapat bahwa jaman sekarang lebih enak dari pada jaman dulu.

Karena saya termasuk pribadi yang mudah beradaptasi, senantiasa mengikuti perkembangan jaman. Hidup di jaman sekarang ini, semua sudah serba canggih. Seharusnya kita sebagai generasi penerus bangsa patut bangga terhadap negara kita ini. Seharusnya kita banyak-bnyak bersyukur hidup di jaman enak ini.

Awalnya saya sangat sulit gaesmenyesuaikan perkembangan jaman ini, apalagi saya berasal dari keluarga yang bisa dibilang “keluarga wong ndeso”. Orang tua dalam mendidik saya bisa dikatakan masih berpedoman pada jaman dulu. Ya begitu gaes, sejak kecil saya termasuk anak yang kuper, jarang bergaul dengan teman-teman sebaya.  

Tempat tinggal yang berada di sebuah desa, mungkin pikiran kalian hidup di desa itu enak, ada kebersamaan dengan temen-temen, tetangga dan banyak saudara. Semua itu memang benar sih, mengingat orang tua saya adalah seorang guru, jadi dalam mendidik anak pun sangat berhati-hati.

Sejak duduk di sekolah dasar (pada saat itu kalau ngga salah tahun 2001), sebenarnya di kampung saya ada sekolah dasar yang dekat dari rumah (kurang lebih hanya 1 km dari rumah). Semua teman sebaya saya rata-rata sekolah disitu. Bisa dibilang, satu kampung hanya saya yang sekolah berbeda sendiri dari yang lain.

Saya disekolahkan oleh kedua orang tua saya di sekolah dasar yang jaranya tidak jauh juga dari rumah, hanya sekitar 2 km dari rumah. Sebenarnya jarak bukan masalah bagi saya, karena waktu itu selain bekerja jadi guru, ayah saya juga mencari sampingan di pasar dan berjualan di pasar. Karena lokasi sekolah saya waktu tidak jauh dari pasar, mungkin pikiran orang tua sekalian pagi berangkat ke pasar, saya juga bisa ikut berangkat bareng ayah.

Waktu itu, setiap pagi ayah saya sebelum berangkat mengajar setiap hari jualan di pasar dulu dari jam 06.00 s.d. 09.00 WIB. Kebetulan pada saat itu jam mengajar ayah yaitu mulai jam 10.00 WIB. Jadi paginya masih bisa kerja sampingan.

Setiap hari saya berangkat pagi bareng ayah. Karena jam 10.00 WIB sekolah dasar sudah pulang dan ayah saya sudah berangkat mengajar, jadi saya pulang kerumah terpaksa naik angkutan umum.

Hal yang masih saya ingat betul sampai sekarang yaitu pada saat pulang naik angkutan umum, saya sering dibayarin oleh seorang guru wanita yang kebetulan pulangnya searah. Saya tidak kenal sama sekali dengan guru tersebut.

Mengingat pesan ibu, kalau ditengah jalan, bertemu sama siapapun yang tidak kita kenal jangan sampai mau dikasih apa-apa, apalagi diajak kemana-mana. Pesan ibu selalu saya ingat-ingat terus. Maklum namanya anak seumuran SD masih ada rasa takut-takutya, apalagi dulu banyak beredar berita tentang penculikan anak. Ngeri-ngeri sedap gaes.hihihi

Singkat cerita, kami (saya dan bu guru itu) hampir tiap hari kami selalu bareng naik angkutan umum. Setiap jam pulang sekolah kami selalu bareng menunggu di pangkalan angkot itu. Mungkin ibu guru itu punyak anak seumuran saya kali ya.. karena setiap pulang bareng, saya selalu dibayarin. Bahkan pernah dikasih uang jajan.

“Dik, rumahnya mana? Kok pulangnya sendirian, berani ya?” kata ibu guru itu.
“Rumah saya Dsn. Nggringgit bu, bapak sama ibuk ngajar, jadi saya pulang sendiri” jawabku seketika itu.
“Oh, siapa namamu, sudah kelas berapa?” tanya ibu guru itu.
“Saya Soma Arna bu, saya kelas 1” jawabku
“Pinter ya, masih kecil sudah berani sendiri” ujar ibu guru itu
Saya hanya diam dan sedikit senyum. Ngga lama, angkot sudah mau jalan. Dan kami segera naik agar tidak ketinggalan angkot.

Di dalam angkot pun saya duduk bersebelahan sama ibu guru itu. Karena jarak dari terminal sampai rumah saya hanya 1.5 km, jadi tidak perlu waktu lama sudah sampai depan gang. (rumah saya masuk gang sekitar 200m).
Pas mau bayar, seperti biasa ibu guru itu yang bayarin.

“Pak, anak ini mau turun depan situ, biar saya saja yang bayar ya?” kata ibu guru kepada pak sopir.
“Oh iya bu” jawab singkat pak sopir.
“Dik, uangnya di simpen saja buat kamu, sudah ibu bayar tadi. Ini buat kamu, buat beli jajan” kata ibu guru kepada saya sambil memberi selembar uang 5rb an. (anak seumuran SD dulu dikasih uang 5rb sudah termasuk banyak.hahaha)
“Iya bu, terima kasih” kata saya.
Lalu saya bergegas turun dari angkot tersebut karena sudah sampai depan gang.

Oh iya gaes, di keluarga saya sangat memegang erat etika, contohnya setiap kita menerima pemberian dari orang lain, kita wajib mengucapkan terima kasih. Hal itu sudah ditanamkan sejak dini. Untuk itu, saya sendiri sudah diluar kepala kalau menerima pemberian dari orang lain, seketika itu juga saya bilang terima kasih.

Sampai dirumah pun saya ceritakan kepada ibu kalau uang jatah saya buat ongkos pulang masih utuh dan saya selalu masukin tabungan. Oh iya, ibu saya selalu mengajarkan saya untuk menabung sejak dini, itulah mengapa saya sejak kecil suka banget menabung.

Awalnya ibu saya memarahi saya karena itu tadi, saya tidak boleh menerima apapun dari orang lain yang tidak di kenal. Sebenarnya sih ada benernya juga, disamping merepotkan orang lain, kita juga tidak tahu pikiran orang lain yang belum kita kenal sama sekali kan.

Karena saya tiap pulang kerumah selalu dengan cerita yang sama, akhirnya ibu saya berpikiran bahwa orang tersebut mungkin adalah benar orang baik. karena tidak mungkin juga ada niatan jahat kalau setiap hari selalu pulang bareng, apalagi dia seorang guru.

Disini ada hal yang menarik loh gaes, bahkan kejadian waktu itu pasti akan selalu teringat di memori saya seumur hidup saya nanti. ceritanya begini, waktu itu sekolah ada rapat. Seperti biasa, kalau ada rapat kan semua murid dipulangkan agak cepat.

Waktu itu masih jam 09.00 WIB saya jalan kaki dari sekolah menuju terminal. Ehh pas di tengah jalan, saya di panggil oleh seorang ibu-ibu memakai pakaian sederhana, dan dengan tiba-tiba menggandeng tangan saya untuk di ajak pulang bareng. (dalam hati saya, deg-deg an bercampur rasa takut dan banjir pertanyaan di otak saya.hahaha)

“Loh le, kok wes mulih? Kok dewekan? Bapakmu wes mulih mau, kios e wes tutupan, ayo mulih bareng ak wae yo, ak bar blonjo ng pasar, nggowo barang akeh, mengko numpak dokar, .” Kata ibu-ibu itu dengan kilatnya tanpa spasi.
Bapak isih ng pasar kok, iki durung jam 10” kataku (maklum, waktu itu saya belum lancar bicara bahasa krama.hehehe).
“Aku iki koncone ibukmu, omahku pengkol, wes gausah wedi mengko tak terke tekan omahmu yo” kata ibu itu.
Karena tangan saya sudah digandeng menuju pangkalan dokar, akhirnya saya pun terpaksa ikut ibu itu.

Singkat cerita, saya sudah ada di atas dokar. Oh iya, saya lupa menjelaskan, dokar itu sebutan delman di daerah jawa, dan pengkol itu desa sebelah kampung saya. jadi kalau mau ke pengkol itu lewat kampung saya (searah). Makanya ibu itu ngotot sekali biar saya bareng dia.hahaha.. wolesss buk, maklum anak kecil belum tau.. wkwkwk

Bener gaes, dalam hati saya takut banget waktu itu, takut di culik lah, takut di bawa kabur lah, dan sebagainya.hahaha duhhh malang sekali masa kecilku..

Singkat cerita, saya sudah lulus SD dan melanjutkan sekolah di SMP. Banyak sekali cerita yang meyenangkan di masa-masa SMP yang akan saya ceritakan pada episode selanjutnya..


(Next. Part III, Part IV, .... dst, sampai nanti berlanjut terus, biar seperti sinetron.hahaha)

0 Response to "“BON VOYAGE” Perjalanan yang Menyenangkan (Sampai Jadi Perwira). Part II"

Post a Comment

Demi kenyamanan bersama, dimohon berkomentar dengan kata-kata yang baik dan sopan. Mohon maaf, komentar yang berisi "link aktif" akan auto detected spam.

Jika tulisan ini layak untuk disebarluaskan, silahkan bagikan ke semua teman-teman sosial media baik manual (share link) atau dengan klik tombol bagikan yang sudah saya sediakan dibawah bagian akhir setiap tulisan.

Salam Satu Sea
"Di laut kita jaya, di darat kita berkarya"
Bravo - Pelaut Indonesia

Terima kasih

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel